BPOM : PRODUK YANG BEREDAR HARUS ADA IZIN.

MMGN – TAPAKTUAN/Badan POM Kabupaten Aceh Selatan melaksanakan penyampaian informasi dalam rangka HUT Badan POM ke – 18, di Taman Pala Indah Tapaktuan, Jum’at (8/2/2019).

Hut Badan POM bertema,” BPOM 18 FunFes Bakti Untuk Negeri “. Bersama berbakti untuk negeri, untuk Indonesia kuat dan mandiri.

Bupati Aceh Selatan H Azwir S SOS, diwakili Asisten I Erwiandi S SOS MSi, menyampaikan menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan oleh Badan POM di Kabupaten Aceh Selatan ini, kegiatan seperti ini tentunya akan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang produk obat dan makanan kita. semua pasti tahu bahwa obat dan makanan merupakan kebutuhan primer umat manusia artinya hampir setiap saat kita butuhkan. 

Ia berharapan, setelah mengikuti kegiatan ini para peserta lebih paham, lebih waspada, dan lebih peduli terkait keamanan mutu dan kemanfaatan obat dan makanan yang beredar di sekitar kita,” harapnya.

“Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini telah memberikan perubahan dalam kehidupan kita berbagai penemuan senyawa kimia baru dan teknologi produksi yang serba canggih, dan menghasilkan berbagai macam varian produk obat dan makanan di era revolusi industri ke-4 saat ini. 

Kemudian, peredaran bisa dilakukan lintas benua dalam waktu singkat,  konsumen dapat saja membeli produk yang diinginkannya melalui smartphone yang dimiliki perkembangan ini. Sungguh sangat memudahkan kita namun harus kita sadari dibalik kemudahan itu tersimpan potensi bahaya bagi kehidupan kita,” ujarnya. 

Penggunaan bahan kimia yang tidak bijaksana dapat merongrong kesehatan kita baik lambat maupun cepat pewarna makanan misalnya, jika saat produksi makanan penggunaannya sesuai aturan maka menimbulkan cita rasa makanan yang khas dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Namun apabila sudah berlebihan maka itulah yang akhirnya dapat mengganggu kesehatan kita.
 
Erwiandi melanjutkan, disamping itu ada bahan kimia yang sama sekali tidak boleh digunakan pada makanan misalnya formalin, boraks dan pewarna merah yang bernama rhodamin B, sebab sedikit pun akan merusak organ tubuh kita,” ucapnya.

“Disamping bahaya kimia ada dua potensi lagi yang dapat mencemari produk obat dan makanan, mereka adalah mikrobiologi dan partikel-partikel yang tidak diinginkan. Keracunan yang menimpa sekelompok siswa di sekolah yang sering terjadi akhir-akhir ini umumnya disebabkan oleh cemaran mikrobiologi, hal ini bisa terjadi karena izin dan sanitasi yang kurang diperhatikan.

Bahaya-bahaya ini umumnya tidak kasat mata, boleh jadi kemasannya cantik,  produk luar negeri terkesan munafik, ternyata sudah tercemar oleh suatu bakteri yang berbahaya, untuk itulah pemerintah dalam hal ini Badan POM membuat regulasi bahwa produk yang akan beredar di Indonesia harus memperoleh izin edar resmi dari Badan POM, selain itu produk yang telah bergelar pun akan tetap diawasi secara berkala sebab potensi rusaknya produk tidak hanya dari produsen namun juga bisa dari sepanjang proses distribusi dan peredarannya,” tuturnya.

Bisa dibayangkan banyaknya produk yang harus selalu diawasi oleh Badan POM di daerah kita, di toko kelontong, minimarket, swalayan, toko obat dan juga apotek yang cukup banyak tersebar dari Labuhan haji hingga Trumon Timur yang jaraknya berjauhan.

Tambah Erwiandi, Pemkab Aceh Selatan memberikan apresiasi pada Badan POM, diharapkan bisa permanen berdiri di daerah penghasil Pala, dalam rangka pengawasan terhadap seluruh makanan dan minuman yang beredar di kabupaten Aceh Selatan,” katanya.

Kepala BPOM Aceh Selatan Darwin, mengatakan, ketelitian saat membeli dan menggunakan produk bertujuan agar masyarakat terhindar dari produk ilegal yang di jual bebas di pasaran.

“Jika ingin membeli produk lihat dulu kemasannya, teliti kemasannya, apa masih bagus atau sudah rusak, atau kadaluwarsa yang di jual di pasaran.

Di jelaskan, BPOM Kabupaten Aceh Selatan terbentuk pada tahun 2018, pengawasan meliputi Aceh Selatan, Subulussalam dan Aceh Singkil.

Ia menambahkan, yang kita awasi adalah makana dan minuman kemasan, dan produ