DISTANBUN SAMBUT BAIK RENCANA EKSPORT CPO DARI ACEH

 

 

MMGN – Banda Aceh | Kita sangat mendukung dan bangga ada pengusaha Aceh yang berani dan terjun langsung untuk urusan eksport CPO (Crude Palm Oil) atau minyak sawit mentah yang dilakukan langsung dari Aceh. Tentunya hal ini sangat menguntungkan bagi Aceh khusunya bagi petani sawit dan PKS (Pabrik Kelapa Sawit) yang beroperasi di Aceh. Demikian disampaikan Azanuddin Kurnia,  SP, MP Kabid Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Distanbun Aceh mewakili Kadistanbun Aceh A. Hanan, SP, MM kepada media ini ketika diminta tanggapan tentang rencana Nurchalis melakukan eksport langsung CPO dari Aceh.

 

Kita memang berharap ada pengusaha yang mau melakukan eksport langsung CPO dari Aceh karena selain bisa mengurangi biaya transport ke provinsi tetangga, ada keuntungan lain seperti membuka lapangan kerja, meningkatkan roda perekonomian rakyat, dan bisa menaikkan nama Aceh di level perdagangan dunia luar karena akan tercatat sebagai franko Aceh CPO yang di eksport.

 

Hal ini nantinya bisa mendongkrak harga TBS akan naik dari pengurangan harga transport dan berbagai retribusi lainnya. Kita juga senang dan harus berbangga bila hal ini terwujud. Karena pada dasarnya, Kelapa Sawit ini datang ke Indonesia awalnya adalah dari Aceh. Pertama datang sekitar tahun 1911, ditanam di Sungai Liput Aceh Tamiang, Asahan Sumatera Utara dan Bogor. Khusus untuk Sungai Liput dan Asahan dikembangkan sebagai tanaman budidaya yang bernilai bisnis, sedangkan yang di Bogor lebih kepada penelitian dan pengawetan, demikian disampaikan Azan panggilan akrabnya.

 

Azan berharap kepada Nurchalis untuk terus maju dan bisa mengembangkan ekonomi Aceh. Apalagi akan di eksport dari Pelabuhan Surin Aceh Barat Daya katanya. Hal ini tentu akan bisa membantu dalam pengembangan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Pantai Barat Selatan Aceh yang sedang digagas saat ini.

 

Kami juga berharap, para pemilik kebun dan PKS di Aceh agar dapat memanfaatkan peluang bisnis ini langsung dari Aceh. Kapan lagi para pengusaha tersebut untuk membantu Aceh kalau tidak sekarang dari sektor eksport CPO. Masalah teknis, para pengusaha dapat langsung nanti berkomunikasi dengan bung Nurchalis, ujar Azan.

 

Tehadap usulan Bung Nurchalis tentang Qanun atau Pergub Tata Niaga khususnya pada sektor Pertanian  dan Perkebunan, kami sedang mengkajinya. Pada dasarnya kami seprinsip dengan beliau. Inti nya  bagaimana kita bisa membangun Aceh dari berbagai sektor. Sehingga hasil bumi Aceh mendapat proteksi yang wajar dari Pemerintah khususnya Pemerintah Aceh, demikian diakhir pembicaraan menurut Azan yang juga sebagai Ketua IKA SEP Unsyiah.