Elpigi Subsidi Harga Melangit, Disperindagkop dan UKM Kota Subulussalam Apatis

SUBULUSSALAM- Elpigi 3 kg saat ini di kota Subulussalam sangat langka akibatnya masyarakat menjerit, dan bertanya tanya, apa sebab dan kemana larinya barang tersebut. Serasa Elpigi 3 kg ini bukan lagi milik rakyat kecil, dan hal ini menjadi dilema di tengah masyarakat.

Harga elpigi 3 kg saat ini berfariasi,ada yang sampai Rp 30 ribu,dan ada juga yg menjual Rp 28 ribu, jauh dari HET. Sehingga masyarakat daerah ini sangat kecewa terhadap kebijakan Pemko Subulussalam, melalui DisperindagKop dan UKM. Kenapa hal ini bisa terjadi seperti ini, apakah karena Pemko kurang mengawasi peredaran elpigi 3kg ini?? Atau memang instansi terkait APATIS tanpa peduli dengan keluhan masyatakat??

Pertanyaan ini wajar, karena peredaran elpigi 3 kg saat ini beda jauh dengan dulu, saat ini seolah olah tak ada pengawasan serius dari instansi yang berwenang, sehingga masyarakat merasa resah, tak tau harus mengadu kemana.

Terdapat 2 distributor di kota ini, akan tetapi kenapa bisa barangnya langka,apakah ada permainan dalam hal ini??

Sebenarnya barang subsidi disetiap daerah ada aturan mainnya, seperti kuota, telah disesuaikan dengan catatan kependudukan kota Subulussalam, dan kwota daerah ini tak boleh dijual kedaerah lain,dan elpigi 3 kg ini milik masyatakat kecil, bukan masyarakat menengah keatas.

Hal ini adalah fakta, sehingga diminta pedagang-pedagang kepada Walikota Subulussalam agar memperhatikan persoalan ini.

Penyaluran elpigi Subsidi ini tepat sasaran dan diawasi, agar jangan dimainkan oleh pedagang nakal, yang mungkin menjual keluar daerah, atau ditimbun, yang hanya ingin mengambil untung banyak, hal ini bisa terjadi, adalah karena pengawasan dari tim atau dari dinas terkait sangat lemah.

Menurut beberapa masyarakat yang sempat dijumpai oleh tim Media Mega Nusantara mereka mengatakan harga Elpigi 3kg sudah melampaui batas,30 ribu, 28 ribu pertabung sehingga Program Pemko yang mengalihkan minyak tanah ke Elpigi, menjadi polemik, yang jelas katanya yang sangat perlu diperhatikan adalah “pengawasan” agar benar hal ini berjalan sesuai aturan mainnya.

Beberapa tahun yang lalu, sebelum Kadis Perindagkop dan UKM berganti, persoalan ini telah tertata dengan baik, Kuota elpigi dikota Subulussalam telah mencukupi untuk daerah, hampir 30000 tabung perminggu, pengecerpun telah diatur, tak boleh sembarangan menjual elpigi 3kg, semua telah diatur, sampai harga di agen besar, dan sampai ke pengecer kecil, harga telah ditentukan.

Akan tetapi, saat ini semuanya hal tersebut diatas, menjadi sirna, akibat Disperindagkop dan UKM kota Subulussalam “apatis” tak mau tau tentang hal ini.

Harapan masyarakat agar jangan sempat dipolitisir, karena fakta ini dapat berujung polemik ditengah tengah masyarakat, perlu ditertibkan kembali para pengecer elpigi Subsidi dikota Subulussalam. (SARAN)

 




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *