Menjadi wartawan Itu Mengasyikkan

OPINI- Setiap  hari kita membaca koran, majalah, tabloid .Setiap jam kita mendengar siaran radio. Setiap menit kita  menonton tayangan televisi. Bahkan setiap detik kita membaca berita-berita  dari ratusan bahkan ribuan media Online.

Kita bisa nikmati semua ini karena hasil kerja wartawan yang menulis berbagai fakta dan peristiwa di banyak media massa lokal dan nasional, bahkan internasional.

Berbagai ragam tulisan wartawan bersifat informasi, menghibur, mendidik dan mengontrol bisa membahagiakan sekaligus jadi  informasi yang menyakitkan.

Kita kerap diajak berkelana secara mengasyikkan. Tetapi kita juga terkadang dibawa menyaksikan berbagai peristiwa yang amat menyesakkan dada, kelaparan, kabakaran, kerusuhan, pemerkosaan dan pembunuhan dan sebagainya.

Kita kerap terhanyut bagai merasakan sendiri semua fenomena dan peristiwa secara langsung. Terkadang kita  saatnya tertawa. Tetapi ada saatnya pula kita bersedih dan nestapa, kita pun banjir air mata. Semua ini karena kekuatan dahsyat dari tulisan wartawan dengan bahasa jurnalistik

Asyiknya menjadi wartawan dimulai dari begitu mudahnya seseorang menjadi wartawan. AA Kunto A mengatakan, “Sumpah! Menjadi wartawan itu gampang. Siapapun bisa jadi wartawan. Profesi ini bukan warisan, bukan penyakit keturunan. Juga bukan untuk mereka yang berbakat. Pun bukan untuk mereka yang mengantongi indek prestasi akademik nyaris sempurna”

Demikian dikatakan AA Kunto, wartawan senior, redaktur Majalah merketing, pembicara dalam pelatihan-pelatihan jurnalistik di berbagai daerah di Indonesia. Juga penulis buku.

Apa yang dikatakan AA Kunto, memang  sebuah kenyataan yang di alami para wartawan Indonesia.

Bisa jadi menekuni profesi sebagai wartawan jangan timbul penyesalan. Menjadi wartawan seperti wisatawan yang asik menikmati panorama alam yang indah. Bedanya wartawan berwisata  dari satu  peristiwa dan fakta kepada peristiwa dan fakta lain secara mengasikkan.

Sesesorang yang mencintai profesi kewartawanan timbul penyesalan mengapa  tidak sejak sekarang menjadi wartawan. Menikmati kehidupan tidak monoton. Bisa bertemu siapa saja  mulai dari tukang sirih sampai presiden.

Menjadi wartawan tidak perlu menunggu jadi sarjana. Bukan gelar yang  jadi ukuran kemampuan seseorang menjadi wartawan profesional. Memang baik berpendidikan tinggi, namun jauh lebih baik berwawasan luas dan berpengetahuan tinggi, papar AA Kunto.

Ternyata AA Kunto pun sudah membuktikannya, betapa mudahnya proses menjadi wartawan. “ Gampang jadi wartawan, meski pekerjaan wartawan bukan pekerjaan gampangan. Jadi yang gampang itu tahapan menjadi wartawannya. Selama menjalani profesi ini, itu yang tidak gampang”, urai AA Kunto yang memulai karier wartawan sejak duduk di bangku kelas 2 SMA Kolese de Britto, sebagai  reporter rubrik “Gema” Harian Bernas, Jogja.

Profesi seorang wartawan bertujuan mengumpulkan dan menulis berita agar dapat dimuat didalam surat kabar atau disiarkan melalui media elektronik.

Profesi ini dianggap unik. Mengapa demikian?. Karena menyatunya cara kerja seorang intelektual dengan pekerja lapangan, antara pekerjaan berpikir dengan pekerjaan tangan, antara otak dan otot.

Seorang wartawan harus turun ke lapangan untuk mendapatkan fakta yang akurat, mengendus sumber fakta paling utama, primer. Berbelanja sendiri tidak boleh diwakilkan dan memasak sendiri ( Bahan-bahan berita diolah sendiri) untuk dikirim ke media cetak (koran, tabloid  atau majalah)  atau media elektronik.

Bicara wartawan Bisa timbul dua pandangan yang saling bertentangan. Satu pihak  menganggap wartawan  sebagai  pekerjaan tidak menarik, tidak terhormat dan tidak menghasilkan cukup banyak uang, sehingga ada secara  sinis mengatakan, “ Seorang wartawan bukanlah seorang pria yang menarik untuk diambil menjadi menantu”.

Tetapi ada pula pihak yang menganggap, justru sebagai suatu profesi yang sangat menarik, menantang dan sangat terhormat karena seorang wartawan yang bertanggungjawab senantiasa mengutamakan kepentingan orang banyak dalam melaksanakan tugasnya.

Sekarang berada di pihak manakah anda ? . Wartawan disebut juga agen pembaharuan, sebagai jembatan, media, yang menghubungkan antara fakta dan pembaca melalui pesan  yang diperoleh dari sekumpulan fakta kehadapan sidang pembaca. Pesannya harus utuh, tidak ditambah, tidak dikurangi, tidak dimanipulasi.

Jika anda yang berminat menggeluti profesi ini sering-seringlah menyimak berita-berita di media massa. Pastikan semua wartawan dalam  menulis beritanya selalu mengunakan rumus  5 W  ditambah satu H. Semoga di kesempatan lain kita kupas  5 W 1 H ini lebih rinci.

Ditulis oleh : Kasmanudin, peminat komunikasi tinggal di Banda Aceh




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *