Pewaris Keradjaan Atjeh Darussalam: Alam Peudeung Bendera Atjeh Sudah Diakui Dunia

MMGN – Banda Aceh | Pengemban Amanah Waris Diraja Keradjaan Atjeh Darussalam, PSB DYMM Tuanku Muhammad (I) ZN AL-Haj menegaskan, Alam Peudeung adalah bendera Atjeh yang sudah diakui dunia internasional sejak dulu. Hal itu menjelaskan bahwa Atjeh sudah memiliki bendera sendiri sejak dulu hingga sekarang.

Penegasan ini disampaikan Tuanku Muhammad (I) ZN AL-Haj kepada media, Senin (26/07/2019) . Menurut Tuanku Muhammad, bendera Alam Peudeung pernah membesarkan nama Atjeh pada masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

“Jika persoalan bendera Atjeh yakni bendera bulan bintang yang pernah digunakan oleh Gerakan Aceh Merdeka (GAM), tidak menemukan titik terang dari Pemerintah Pusat, maka lebih baik Atjeh menggunakan bendera Alam Peudeung,” kata Tuanku.

Menurut Tuanku Muhammad, saran tersebut mungkin bisa menyelesaikan persoalan bendera Atjeh yang hingga saat ini belum menemukan titik sepakat antara Pemerintah Atjeh dan Pemerintah Pusat.

Alam Peudeung, lanjut Tuanku Muhammad, diyakini juga dapat mempersatukan rakyat Atjeh, sehingga kedepan akan lebih mudah membangun Atjeh demi kemakmuran bersama.

“Kalau bendera Alam Peudeung mencerminkan keluhuran peradaban Atjeh serta menggambarkan religiusitas masyarakat Atjeh dan sampai sekarang itu masih ada, maka sebaiknya Pemerintah Atjeh mempertimbangkan untuk dijadikan bendera Provinsi Atjeh menggantikan bendera bulan bintang yang ditolak oleh Pemerintah Pusat,” tegasnya.

Apalagi, kata Tuanku, saat ini peradaban Atjeh sedikit mengalami kemunduran sehingga perlu dilakukan perubahan oleh semua pihak di Atjeh.

“Menjadikan Alam Peudeung sebagai bendera Atjeh bisa membangkitkan kembali semangat masyarakat Atjeh untuk membangun.

Dulu bendera Alam Peudeung pernah dikenal dan berjaya di Atjeh serta terekam dalam berbagai sejarah Atjeh. Begitu juga, tentang bendera bulan bintang yang digunakan oleh GAM dulunya mempunyai kenangan tersendiri dan terekam banyak di monumen-monumen peradaban dunia,” jelasnya.

Berdasarkan catatan sejarah dari berbagai sumber, bendera resmi kerajaan Atjeh adalah dasar merah dengan bulan bintang di tengah sebagai simbol Islam sama seperti bendera Negara Turki.

“Hal itu menunjukkan bahwa Keradjaan Atjh berlandaskan Alquran dan Alhadits. Pedang merupakan lambang kedaulatan Atjeh dan juga menunjukkan sifat orang Atjeh yang tegas dan ditakuti oleh lawan-lawannya. Ada istilah di Atjeh; hudep saree matee syahid, salah narit peudeung peuteupat, salah seunambat teupeuroe dumna,” paparnya.

Pewaris Keradjaan Atjeh ini menjelaskan, penambahan pedang pada bendera tersebut sebagai sifat orang Atjeh diletakkan di bawah bintang bulan.

“Kesamaan bendera Turki dengan alam peudeung Atjeh menandakan hubungan Atjeh dan Turki sangat harmonis pada masa dahulu,” ungkapnya.

Setelah hampir 125 tahun Bendera Alam Peudeung tidak berkibar di bumi Atjeh, dan berkibar kembali setelah Upacara Istiadat Resmi Waris DiRadja Atjeh Darussalam yang saat ini dipimpin oleh PSB DYMM Tuanku Muhammad ( I ) ZN AL-Haj sebagai Pemegang/Pengemban Amanah Waris DiRadja Keradjaan Atjeh Darussalam pada 1 Muharram 1440 H / 11 September 2018 setahun silam, pada saat Upacara Resmi Perayaan Tahun Baru Islam 1440 H dan dihadiri oleh tamu-tamu undangan DiRadja dari Nusantara dan Luar Negeri.




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *