PUTERI PUKES OBJEK WISATA PENUH SEJARAH DAN MENYEDIHKAN.

MMGN – TAKENGON/Takengon merupakan daerah dikenal dengan udara yang begitu dingin, juga julukan kota Kopi, serta objek wisata begitu banyak dan alam yang begitu rindang, asri dan indah menawan, serta kota yang dikelilingi dengan Danau Laut Tawar.

“Takengon mempunyai salah satu objek wisata Putri Pukes yang terletak dipinggiran bukit dan berhadapan dengan Danau Laut Tawar, banyak pengunjung baik dari dalam daerah sendiri maupun dari luar daerah serta manca negara, karena mempunyai kisah seorang pengantin baru yang sangat menyedihkan, menurut pantauan awak media MMGN dan langsung konfirmasi dengan Abdullah Ujung Paris (penjaga sekaligus bercerita kisah Puteri Pukes) bersama para pengunjung, Kamis (17/1/19)

Abdullah Ujung Paris menyampaikan, Puteri Pukes desa sebelah danau Nosar yang nikah kekampung tembolon, pada waktu pengantaran pengantin Puteri Pukes ketempat desa suaminya, lalu orang tua berpesan kepada Puteri Pukes, “nanti kau pergi ketempat suamimu dan sudah kami izinkan, tapi pada saat kau pergi jangan lagi kau menoleh kebelakang.

Ia menambahkan, sesampai Puteri Pukes disebelah pinggiran danau yang sekarang danau Laut Tawar dekat gua ini, lalu Puteri Pukes menoleh atau melihat kebelakang yaitu kampung Nosar, kemudian datang petir begitu keras suaranya, dan badai yang kencang dan membuat pengantin (Puteri Pukes) dan rombongan masuk dan berlindung didalam gua bersama Loyang Sekam.

Abdullah melanjutkan, saat rombongan sudah keluar dalam gua, dan tidak terlihat pengantin (Puteri Pukes) dan suami ikut juga keluar, kemudian rombongan pengantin masuk gua kembali untuk mencari pengantin, akan tetapi yang ditemukan pengantin Puteri Pukes sudah menjadi batu,” ujarnya. 

Pada waktu dulu adat antar pengantin tidak boleh bergandingan antara pengantin perempuan dengan pengantin laki – laki (suami), mesti duluan pengantin laki – laki (suami) yang jalan, kira – kira satu pengkolan jauhnya, kalau sekarang jauhnya kira – kira 200 M. 

Kemudian rombongan memberikan kabar pada pengantin lelaki (suami), yang mana istri (Puteri Pukes) telah menjadi batu, dan suami tidak percaya, tidak tega dan merasa sedih, dan karena sangat setianya (suami) Puteri Pukes, dia pun berdoa sambil memandang kekampung Nosar (kampung istri) supaya menjadi batu juga.

Tempat ini selalu rame dikunjungi wisatawan, dan tidak mesti hari libur, akan tetapi setiap hari selalu ada pengunjung dan minimal 50 orang pengunjung setiap hari,” kata Abdullah 

Efendi (30 tahun) salah seorang Pengunjung asal Palembang mengatakan, sangat terharu dan merasa sedih mendengar kisah seorang pengantin yang menjadi batu, akibat sudah dipesankan orang tuanya jangan menoleh kebelakang saat dia pergi kekampung suaminya, dan gara – gara tidak mengindahkan amanah orang tuanya, maka Puteri Pukes menjadi batu. Ini merupakan satu bukti sejarah yang nyata, dan sangat menyedihkan, serta menjadi satu pelajaran buat kita semua,” ucapnya.  (MS)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *