TENDER PEMBANGUNAN GEDUNG ONCOLOGY RSUDZA MANGKRAK, DIDUGA KARENA BANYAK “HANTUNYA

MMGN – Banda Aceh |Pernyataan Direktur RSUZA beberapa waktu yang lalu di ULP Aceh banyak “Hantu” ternyata bukan hanya di ULP Aceh tapi di Rumah Sakit Umum Zainal Abidin Banda Aceh diduga sumber “Hantunya”.

Dari pers rilis yang dikirim Nasruddin Bahar Koordinator LPLA kepada redaksi MMGN sabtu 3/8/19 mengatakan hasil monitoring yang dilakukan oleh Lembaga Pemantau Lelang Aceh LPLA penyebab molornya proses tender Pembangunan Gedung Oncology pada RSZA disebabkan persyaratan lelang yang mewajibkan peserta Tender melampirkan Tenaga Ahli Nuklir. Persayaratan Tenaga Ahli Nuklir tersebut dimasukkan oleh KPA sebagai persyaratan lelang yang tertuang dalam Rencana Anggaran Kerja KAK.

LPLA menilai syarat Tenaga Ahli Nuklir seperti sengaja untuk mengkondisikan agar proyek tersebut dimenangkan oleh Rekanan yang sudah dipersiapkan sehingga tidak lagi terjadi persaingan sehat.
Jika pekerjaan Bunker yang memerlukan tenaga Ahli Nuklir, kenapa KPA tidak memisahkan saja pekerjaan Bunker dengan pekerjaan Konstruksi Bangunan gedung lainnya. Pembangunan Bunker digolongkan pekerjaan Spesialis dengan kode Bidang SP pada Sertifikat Badan Usaha.
Jika perlu KPA bisa menunjuk langsung untuk pekerjaan Konstruksi Bunker tersebut tanpa tender dan hal tersebut diatur dalam perpres 16/2018 tentang kriteria penunjukan langsung untuk pekerjaan tertentu.

Nasruddin Bahar juga mengungkapkan sebagaimana diketahui setiap tahun selalu terjadi masalah tentang pembangunan gedung di RSZA termasuk Pembangunan 4 Kamar Ruang Operasi masih belum selesai dikerjakan. Masyarakat sangat gerah melihat permainan antar elit pemerintah, sepertinya antara PA/KPA dengan ULP selaku pelaksana tender tidak terjadi komunikasi dengan baik yang ujung- ujungnya rakyat juga yang ikut merasakan dampak dari kebijakan tersebut.

Sudah waktunya kinerja aparatur Pemerintah benar- benar berpihak kepada rakyat. Tanggung jawab moral pejabat di Aceh sangat rendah, seolah olah mereka tidak bersalah dan dengan enteng menjawab” jika gagal tender lakukan tender ulang, jika Anggaran tidak terserap dianggarkan lagi pembagunannya tahun depan”.

LPLA mendesak Plt Gubernur Aceh untuk mengevalusai kembali kinerja kabinetnya. Jika benar “Hantu2” yang bergentayangan tersebut ada maka silakan tangkap Hantu tersebut berikan hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku.
(Penulis Nasruddin Bahar
Koordinator LPLA
081381620457)

Ketika dikonfirmasi oleh Redaksi MMGN ke pihak RSUDZA, Pak Muhazar Wadir Adm. RSUDZA mengatakan tender oncologi belum dilakukan karena sedang penyusunan dokumen lelang oleh pihak konsultan, kemudian dikaji bersama oleh KPA dalam minggu ini dengan tim ahli spesialis oncology dan tp4d.

Beliau mengatakan kita tidak mau lagi kecolongan dan gagal tender kedepan, makanya prinsip kehati- hatian sangat diperlukan dalam penyiapan dokumen.

Mengenai tenaga ahli nuklir memang wajib dipersyaratkan mengingat alokasi anggaran merupakan satu kesatuan pembangunan, kita tidak mau direpotkan dengan pemecahan paket dan akan berakibat pembangunan terjadi secara parsial dan tidak simultan sehingga penbangunan tidak utuh. Oleh sebab itu kita menyampaikan dokumen ke ULP agar betul-betul menjaring rekanan yg potensial dan berpengalaman dalam membangunan ged pelayanan ongcology.

DR Muhazar juga menyebutkan jika ada informasi terjadinya penyimpangan dalam proses pengadaan dan dapat dibuktikan dengan data dan fakta maka kita akan mengambil langkah hukum, dan kita berharap jangan menduga-duga dan memfitnah sehingga menyebabkan hilangnya kepercayaan masyarakat apalagi melakukan penggiringan opini negatif yang dapat menghambat pembangunan ged onco yg sudah lama dibutuhkan oleh masyarakat dan sudah 3 tahun gagal. (redaksi)




Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *