Pewaris DiRadja Kesultanan Atjeh Darussalam Dengan Sakral Baiat HM Yunus Datuk Sutan Batuah dan Perangkat Dari Kampar Riau

 

Banda Aceh – MMGN | Momen sakral terjadi di Istana DiRadja Kesultanan Atjeh Darussalam di Banda Atjeh, saat pewaris diradja Air Tiris Melayu Kampar HM Yunus Datuk Sutan Batuah Bin Muhammad Yusuf dan rombongan dibaiat oleh Pewaris Radja Kesultanan Atjeh Darussalam, Paduka Tuanku Muhammad 1 ZN Al – Haj di Istana Darul Ihsan, Blang Oi, Banda Atjeh. (25/09)

Pewaris Diradja Air Tiris Melayu Kampar HM Yunus Datuk Sutan Batuah dan rombongan tiba di Banda Atjeh pada Sabtu dini hari sekira pukul 01.35 WIB setelah menempuh perjalan darat selama 39,5 jam dimana rombongan HM Yunus Datuk Sutan Batuah bertolak dari Masjid Jami’ Air Tiris, Kabupaten Kampar tepat pukul 10.00 WIB, Kamis (24/9/2021). Prosesi penobatan dan silaturahmi berlangsung sejak Sabtu (26/9/2021) hingga Ahad (27/9/2021).

Ikut serta dalam rombongan ini Pucuk Adat Kenagarian Air Tiris Datuk Rajo Malano, M Yatim Datuk Jalelo, Suhali Datuk Indo Komo beserta para Ninik Mamak Dua Belas dari Kenagarian Air Tiris lainnya.

Sementara dari Atjeh turut hadir pejabat pemerintah yakni Guru Besar Fakultas Hukum dan Syariah UIN Ar-Raniry Profesor Dato’ Sri Ust. Muhammad Sidiq Armia, S.Ag, M.H, P.Hd, Pemangku Raja Muda dari beberapa daerah Atjeh, tokoh- tokoh penting, dan pemangku – pemangku adat Atjeh Darussalam.

Dari pantauan prosesi pembaiatan dan penyerahan watikah ini terlihat satu persatu prosesi kegiatan berjalan khidmat. Saat Pewaris Radja Aceh Darussalam Paduka Tuanku Muhammad 1 ZN Al-Haj membuka prosesi dan menyampaikan petuah suasana menjadi hening. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan naskah baiat oleh HM Yunus Datuk Sultan Batuah dan diikuti 28 orang lainnya yang terlihat memakai baju kebesaran yakni baju Melayu.

Paduka Tuanku Muhammad 1 ZN Al-Haj juga memasang atau menyematkan satu persatu penghargaan di baju HM Yunus Datuk Sultan Batuah dan diikuti Datuk Rajo Malano dan keseluruhan penerima penghargaan dan yang dibaiat.

Setelah proses ini dilakukan penyerahan bendera Diradja Air Tiris Melayu Kampar kepada Pewaris Radja Aceh Darussalam dan foto bersama di depan Istana.

Dengan adanya watikah ini maka sahlah gelar yang diberi jabatan pada Pewaris Diradja Air Tiris Melayu Kampar dan perangkatnya. Dengan demikian, HM Yunus Datuk Sutan Batuah atau selama ini dikenal dengan Haji Muhammad Yunus Pondok Patin telah resmi dipanggil sebagai Tuanku Paduka Muhammad Yunus Datuk Sutan Batuah Bin Muhammad Yusuf. Menurut informasi yang diterima, acara penobatan beliau sebagai Pewaris Diradja Air Tiris Melayu Kampar menurut rencana akan dilakukan pada tanggal 1 November 2021 mendatang.

Begitu juga dengan perangkatnya yang lain misalnya Asparaini Rahman Bin Abdul Rahman sudah diberi gelar Datuk Bintara Kanan dengan Gelar Datuk Panglima Setia, Idrus YS Bin Muhammad Yusuf yang merupakan adik dari Tuanku Paduka Muhammad Yunus Datuk Sutan Batuah sebagai Datuk Bintara Abdi Dalam.

Kemudian Dr Azmi Ali yang juga Ketua Pelaksana Kegiatan Pembaiatan Pewaris Diradja Air Tiris Melayu Kampar sebagai Datuk Panglima Besar, Herman Yahya, S.Ag sebagai Datuk Laksamana, Muhammad Ali, S.Ag sebagai Menteri Dalam Negeri Diradja Air Tiris Melayu Kampar dan lainnya.

Bersama rombongan juga ikut serta dua orang dari Siak Sri Indrapura yang ikut dibaiat dan menerima watikah yaitu Tengku Said Firdaus yang merupakan Keturunan Said Ahmad II dari Kerajaan Siak Sriindrapura dan Imam Mustaqim.

Pewaris Radja Aceh Darussalam, Paduka Tuanku Muhammad 1 ZN Al – Haj Pewaris Raja Aceh Darussalam, Paduka Tuanku Muhammad 1 ZN Al – Haj melalui Dato’ Sri Panglima Tjut Urus Seutia Diradja Aceh Darussalam atau Perdana Menteri Diradja Aceh Darussalam Profesor Dato’ Sri Ust. Muhammad Sidiq Armia, S.Ag, M.H, P.Hd dalam sesi wawancara dengan wartawan menyampaikan kegiatan ini merupakan kegiatan sakral dan kegiatan yang dimuliakan, khususnya pada saat pengambilan baiat dan pembagian watikah.

Pengambilan baiat itu merupakan baiat untuk kesejahteraan terhadap misi dakwah Islam yang berpegang kepada Al Qur’an dan hadits dimana medianya salah satu adalah Majelis Adat Diradja Aceh Darussalam.

Guru Besar Fakultas Hukum dan Syariah Universitas Islam (UIN) Ar-Raniry sekaligus Dekan Fakultas Hukum dan Syariah Universitas Islam (UIN) Ar-Raniry ini menyebutkan, secara historis, Aceh dan Riau punya keterikatan yang sangat dekat terima sekali dalam pengembangan Islam.

“Dulu kita punya kitab Siratal Mustaqim dibuat ulama Aceh dan dibagi ke nusantara. Paling dekat ke Malaysia dan negeri-negeri di Pulau Sumatera. Secara teritorial Sumatera itu bukan bagian kerajaan Aceh Darussalam,” cakap Dato’ Sri Muhammad Sidiq Armia.

Ia menambahkan, apa yang dilakukan ini sebagai syiar Keislaman dan upaya mem perkokoh persaudaraan Islam, ukhwah Islamiah melalui jalur adat.

“Mejelis adat ini coba menaungi daerah-daerah, khususnya dunia Melayu yang kuat ajaran Islamnya dan kemudian disamping itu hari ini kita bagikan watikah atau derjah kemuliaan, derjah kehormatan yang telah menjadi tradisi Majelis Adat Atjeh Darussalam dari dulu sampai dengan sekarang,” ulasnya.

Tujuan pemberian watikah sebagai bentuk apresiasi terhadap siapa saja yang telah berbuat lebih terhadap pengembangan Islam di dunia Melayu dan Indonesia khususnya.

Dengan adanya kegiatan ini dan upaya menghidupkan kembali adat budaya ini juga sebagai upaya meningkatkan dan mempererat persaudaraan Aceh dan Melayu.

Nah, kenapa baiat terhadap pewaris Diradja Air Tiris Melayu Kampar dilakukan di Istana Diradja Aceh Darussalam? Dato’ Sidiq mengatakan bahwa Paduka Tuanku Muhammad 1 ZN Al-Haj secara de facto dan de jure merupakan pewaris dari raja-raja Aceh dahulu. “Jadi pengakuan secara legal sudah ada pengakuan dari baik dari Malaysia maupun raja-raja nusantara dan dunia,” terangnya.

Pengakuan ini berdasarkan dari tracing historis. “Jadi ada silsilah yang dicari, yang ditemukan, dan beliau mempunyai silsilah dari raja Aceh sebelumnya,” beber Dato’ Sidiq.

Berkaitan dengan upaya menghidupkan kembali adat budaya di Kampar, terkhusus dengan akan dinobatkannya HM Yunus Datuk Sultan Batuah sebagai Pewaris Diradja Air Tiris Melayu Kampar, Pewaris Diradja Aceh.

Melihat ada satu keterkaitan yang sangat mendasar tentang siar Keislaman. Dengan dibangkitkan kembali Majelis Adat Diradja Air Tiris Melayu Kampar, ada daerah Keislaman yang makin terasa karena nilai spiritual dan rumah dari kegiatan ini tak lain adalah silaturahmi Keislaman dan pengembangan dakwah. “Kalau kita tulus ke situ In Sya Allah akan dibukakan jalan,” imbuh Pewaris Raja Aceh melalui Dato’ Sri Muhammad Sidiq.

Ia menyadari di Kampar terdapat salah satu kerajaan Islam yang sangat termashur selain Kerajaan Siak Sri Indrapura. “Ini harus dilestarikan dan disosialiasikan ke masyarakat tentang merawat adat ini,” katanya.

Sementara itu Paduka Tuanku HM Yunus Datuk Sutan Batuah pada kesempatan ini menyampaikan ucapan terima kasih kepada Pewaris Raja Aceh Paduka Tuanku Muhammad 1 ZN Al-Haj dan seluruh jajarannya yang telah sudi menyambut kedatangannya bersama para datuk dari Kenagarian Air Tiris. Menurut Paduka Tuanku HM Yunus, ini adalah sejarah Melayu Kampar-Riau dan ia mengharapkan ketulusan dan keikhlasan dari mereka yang telah dibaiat dan menerima watikah.

“Acara pada hari ini mengistiharkan atau pembaiatan Diradja Air Tiris Melayu Kampar”, beber Paduka Tuanku HM Yunus Datuk Sultan Batuah.(Rls/Pjr/WP)